LAPORAN WAWANCARA
KARANGAN DEKRIFSI
MATA PELAJARAN : B. Indonesia
Disusun
oleh :
MULYANA DRAZAT
|
|
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami panjatkan ke
Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya
sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan benar, serta tepat
pada waktunya. Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai “JUDUL MAKALAH” [
SEJARAH SITU BULED]
DAFTAR ISI
Ø
BAB 1
I.
LATAR BELAKANG
II.
PERMASALAHAN
III.
TUJUAN PENULISAN MAKALAH
IV.
MAMFAAT KARYA TULIS
Ø BAB
2
v SEJARAH
SITU BULED
Ø BAB
3
v CERITA
MISTIK SITU BULED
Ø BAB
4
v ISTANA
MEGAH
Ø BAB
5
v KETERANGAN
5 W 1H
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
PENULISAN KARYA TULIS
Selama ini Di tengah kemajuan peradaban umat manusia, yang ditandai
dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan komunikasi modern,
tradisi lisan sebagai kekuatan kultural merupakan sumber pembentukan peradaban
dalam berbagai aspek kehidupan. Hal ini penting karena tradisi lisan, dalam
berbagai bentuknya sangat kompleks yang mengandung, tidak hanya cerita, mitos,
legenda, dan dongeng , tetapi juga mengandung berbagai hal yang menyangkut hidup
dan kehidupan komunitas pemiliknya, misalnya kearifan lokal (local wisdom),
sistem nilai, pengetahuan tradisional (local knowledge), sejarah, hukum, adat,
pengobatan, sistem kepercayaan dan religi, astrologi, dan berbagai hasil seni.
Kedudukan
tradisi lisan sebagai bagian dari warisan budaya bangsa ditetapkan dalam
Konvensi UNESCO tertanggal 17 September 2003. Sebagai bagian dari intangible
cultural heritage, dikatakan bahwa “Oral traditions is important to be transmitted
value things: oral traditions is going to be the source of identity for
humanity in this millenium” (Konggres IFLA, Agustus 1999). Tradisi lisan terbukti juga,
selain merupakan identitas komunitas dan salah satu sumber penting dalam pembentukan karakter bangsa,
tradisi lisan adalah pintu masuk untuk memahami permasalahan masyarakat pemilik
tradisi yang bersangkutan.
Tradisi
Lisan merupakan tradisi yang berkembang di dalam masyarakat yang diceritakan
dari mulut ke mulut dan secara turun temurun, dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Tradisi lisan erat kaitannya dengan adat istiadat yang melekat pada
suatu masyarakat.
Dalam makalah ini, kami mencoba melakukan pembukuan terhadap beberapa tradisi lisan yang berkembang di masyarakat. Adapun beberapa daerah yang kami jadikan sumber tradisi lisan adalah Pituruh, kaliglagah, Kalikotes, dan Kemranggen.
Dari hasil penelitian kami di lapangan, ternyata banyak sekali tradisi lisan yang belum terpublikasikan. Kami juga menyadari, bahwa tradisi lisan di tiap daerah adalah berbeda. Dengan adanya tradisi lisan ini, maka corak dan ragam budaya yang ada di Indonesia bertambah banyak, dan bervariasi.
Dalam makalah ini, kami mencoba melakukan pembukuan terhadap beberapa tradisi lisan yang berkembang di masyarakat. Adapun beberapa daerah yang kami jadikan sumber tradisi lisan adalah Pituruh, kaliglagah, Kalikotes, dan Kemranggen.
Dari hasil penelitian kami di lapangan, ternyata banyak sekali tradisi lisan yang belum terpublikasikan. Kami juga menyadari, bahwa tradisi lisan di tiap daerah adalah berbeda. Dengan adanya tradisi lisan ini, maka corak dan ragam budaya yang ada di Indonesia bertambah banyak, dan bervariasi.
Tradisi-tradisi lisan yang ada di suatu wilayah dapat berupa simbol, dongeng, legenda, adat istiadat atau kebiasaa, dan bentuk-bentuk yang lain. Kebanyakan dari tradisi lisan itu mengandung sebuah filosofi yang begitu diyakini oleh masyarakat sehingga menjadi seperti kepercayaan. Dari tradisi itu muncullah tujuan-tujuan yang melatar belakangi adanya tradisi lisan tersebut.
B .
PERMASALAHAN
sejarah adalah cerita yang
turun temurun dari zaman dahulu, yang menceritakan perbuatan-perbuatan
pahlawan, perpindahan penduduk dan pembentukan adat kebiasaan lokal. Sejarah merupakan
campuran antara realisme dan supernatural, perpaduan antara rasional dan
irrasional. Fungsi sejarah adalah untuk mengetahui pengetahuan dan memberi
pelajaran serta membangkitkan atau menambahkan kebanggaan orang terhadap
keluarga, suku atau bangsanya.
C . TUJUAN PENULISAN MAKALAH
1. Tujuan khusus
Adapun
tujuan khusus makalah ini antara lain:
a. Meningkatkan
pengenalan pentingnya sejarah
b. Dapat mencari alternatif
pemecahan masalah yang di hadapi dalam
penyusunan makalah.
c. Melatih ketrampilan
dalam menyusun karya tulis.
2. Tujuan umum
Adapun
tujuan umum dalam penyususnan karya tulis ini antara lain :
a. menambah wawasan dan
pentingnya tradisi lisan.
b. Menambah pengetahuan
bagaimana penerapan tradisi lisan di lingkungan masyarakat.
c. Melatih moral, etika
dan pentingnya penerapan dalam lingkungan masyarakat.
D. MANFAAT KARYA TULIS
1. Manfaat bagi penulis
a. Dapat menambah
wawasan bagi penulis dalam penyusunan makalah maupun yang lain.
b. Dapat mengetahui kekurangan
dan kelebihan dalam penulisan makalah.
c. Dapat mengembangkan
pemikiran makalah.
d. Dapat melatih penulisan
dalam menulis sebuah makalah.
2. Manfaat bagi pembaca
a. Dapat menambah
pengetahuan pembaca.
b. Dapat menilai kekurangan
penulis.
c. Dapat mengambil
hikmah dalam bacaan.
BAB 2
SEJARAH SITU BULEUD
Pembangunan Situ Buleud mulai dirintis pada 1830 oleh pendiri Purwakarta, yaitu R.A. Suriawinata. Antara tahun 1819-1826, pemerintahan Belanda melepaskan diri dari pemerintahan Inggris yang ditandai dengan upaya pengembalian kewenangan dari para bupati kepada Gubernur Jendral Van der Capellen. Dengan demikian, Kabupaten Karawang dihidupkan kembali sekitar tahun 1820, meliputi wilayah yang terletak di sebelah timur Kali Citarum/ Cibeet dan sebelah barat Kali Cipunagara. Dalam hal ini, kecuali Onder Distrik Gandasoli, sekarang Kecamatan Plered, pada waktu itu termasuk Kabupaten Bandung
Pada masa pemerintahan Bupati R.A. Suriawinata atau Dalem Sholawat, pada 1830 ibu kota dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih, yang kemudian diberi nama Purwakarta, purwa berarti permulaan dan karta berarti ramai/hidup. Diresmikan berdasarkan besluit (surat keputusan) pemerintah kolonial tanggal 20 Juli 1831 nomor 2.
Pembangunan dimulai antara lain dengan pengurugan rawa-rawa untuk pembuatan Situ Buleud, pembangunan Gedung Karesidenan, Pendopo, Masjid Agung, Tangsi Tentara di Ceplak, termasuk membuat Solokan Gede, Sawah Lega, dan Situ Kamojing. Pembangunan terus berlanjut sampai pemerintahan bupati berikutnya.
BAB 3
CERITA
MISTIK SITU BULEUD
Seorang sesepuh Purwakarta yang juga
Sekretaris Musyawarah Bersama Masyarakat Purwakarta dan anggota panitia
penelusuran sejarah Purwakarta, R.H. Garsoebagdja Bratadidjaja, menjelaskan,
pada zaman dahulu Situ Buleud merupakan tempat "pangguyangan"
(berkubang) badak yang datang dari daerah Simpeureun dan Cikumpay serta
dijadikan pula tempat minum bagi binatang lainnya. Situ Buleud terbentuk karena
ada mata air ditambah air hujan. Kemudian, pada zaman Belanda diperbesar.
Karena dikhawatirkan airnya terus surut, dibuatlah saluran irigasi dari daerah
Pasawahan. Selanjutnya, Gar menceritakan sebenarnya Situ Buleud sering
dipergunakan untuk acara-acara keramaian besar, seperti memperingati hari ulang
tahun Raja Belanda ataupun keramaian lain. Kemudian dibuat panggung besar di
tengah-tengah danaunya dan diadakanlah pesta besar sehingga rerumputan yang ada
di sekelilingnya juga terus dipelihara. "Ini terjadi sebelum Perang Dunia
II, sedangkan sekarang tidak ada lagi acara tersebut yang biasanya diramaikan
dengan acara wayang golek ataupun calung," ujarnya.
Pada zaman Belanda itulah, rakyat
jelata tidak boleh menginjak rumput yang ada di sekeliling Situ Buleud karena
merupakan tempat atau arena bermain para gegeden Belanda. Untuk menjaganya,
dipercayakan kepada seorang upas bernama Sahro lengkap dengan pentungan
karetnya. Ia seringkali berteriak-teriak untuk menakut-nakuti anak-anak yang
bermain ke wilayah sekitar danau itu. Karena merasa takut dipentungi, anak-anak
biasanya terus berlarian. Lebih dari itu, Situ Buleud dulu juga sering
dijadikan tempat berenang. "Namun, sekarang tidak lagi bahkan sekarang
suka ada jatuh korban anak-anak yang tenggelam, sedangkan dulu tidak
pernah," ungkap Gar.
Sementara itu, menyangkut cerita berbau mistik, menurut Gar, berdasarkan penuturan orang-orang tua dulu pada setiap subuh anak-anak seringkali bermain di sekitar Situ Buleud. Namun, mereka biasanya langsung berlarian manakala terdengar teriakan bahwa di tengah-tengah Situ Buleud muncul secara tiba-tiba bayang-bayang hitam besar. "Awas! Aya anunya [****]Bima. Aya [****] Bima!"
Sementara itu, menyangkut cerita berbau mistik, menurut Gar, berdasarkan penuturan orang-orang tua dulu pada setiap subuh anak-anak seringkali bermain di sekitar Situ Buleud. Namun, mereka biasanya langsung berlarian manakala terdengar teriakan bahwa di tengah-tengah Situ Buleud muncul secara tiba-tiba bayang-bayang hitam besar. "Awas! Aya anunya [****]Bima. Aya [****] Bima!"
Bahkan, yang lebih seram lagi sempat
pula ada cerita orang tua dulu bahwa di Situ Buleud itu ada
"penunggu"-nya yang biasa disebut si Barong, yakni sesosok mahluk
menyerupai bentuk kepala singa. Makhluk itu konon suka muncul secara tiba-tiba
di tengah Situ Buleud. "Bila ada orang yang kawenehan (kebetulan
melihat-red.), akan terlihat sosok kepala singa besar," ungkap
Garsubagdja.
BAB 4
Istana megah
Sementara itu, seorang warga sekitar Situ Buleud bernama Andang (27), yang merupakan warga asli di sekitar danau tersebut, menceritakan, dulu sebagaimana diceritakan orang tuanya Situ Buleud memang merupakan tempat berkubang badak. Pada zaman Belanda diperbaiki dan dijadikan arena kegiatan hiburan. Ia juga mengetahui banyak cerita mistik di Situ Buleud. Menurutnya, bila kita punya "ilmu", ketika masuk dari pintu gerbang utama langsung terlihat berdirinya sebuah istana megah.
Sementara itu, seorang warga sekitar Situ Buleud bernama Andang (27), yang merupakan warga asli di sekitar danau tersebut, menceritakan, dulu sebagaimana diceritakan orang tuanya Situ Buleud memang merupakan tempat berkubang badak. Pada zaman Belanda diperbaiki dan dijadikan arena kegiatan hiburan. Ia juga mengetahui banyak cerita mistik di Situ Buleud. Menurutnya, bila kita punya "ilmu", ketika masuk dari pintu gerbang utama langsung terlihat berdirinya sebuah istana megah.
Pernah juga ada cerita bahwa suatu
saat danau itu akan dikeringkan untuk diambil ikannya (bahasa Sunda =
dibedahkeun-red.). Pada malam hari sebelum danau itu dikeringkan, secara
kebetulan jatuh pada malam Jumat, menurut cerita banyak ikan besarnya yang
berjalan menuju sungai di sekitarnya. "Katanya, ikan itu merupakan ikan
kajajaden atau bukan sembarang ikan," ungkapnya.
Ada pula cerita, hampir setiap tahun selalu saja ada korban manusia yang menjadi wadal (tumbal-red.) karena ada cerita bahwa danau itu ditunggui oleh Mbah Jambrong. Pada beberapa bulan lalu sempat pula ada seseorang yang menangkap ikan menggunakan jala, lalu tersangkut dan tercebur ke dalam danau hingga meninggal. Bahkan sebelumnya, banyak cerita yang dihubung-hubungkan dengan mistik seperti meninggalnya seorang pengusaha yang menyewa danau itu untuk dijadikan tempat rekreasi. "Selain itu, ada juga cerita tentang rumah peninggalan Belanda di sekitar danau yang sempat disewa oleh produser film 'Rojali dan Juleha' selama dua bulan, namun baru sebulan langsung hengkang. Pasalnya, banyak artisnya yang tidak tahan banyak yang pingsan dan kerasukan," ujarnya.
Ada pula cerita, hampir setiap tahun selalu saja ada korban manusia yang menjadi wadal (tumbal-red.) karena ada cerita bahwa danau itu ditunggui oleh Mbah Jambrong. Pada beberapa bulan lalu sempat pula ada seseorang yang menangkap ikan menggunakan jala, lalu tersangkut dan tercebur ke dalam danau hingga meninggal. Bahkan sebelumnya, banyak cerita yang dihubung-hubungkan dengan mistik seperti meninggalnya seorang pengusaha yang menyewa danau itu untuk dijadikan tempat rekreasi. "Selain itu, ada juga cerita tentang rumah peninggalan Belanda di sekitar danau yang sempat disewa oleh produser film 'Rojali dan Juleha' selama dua bulan, namun baru sebulan langsung hengkang. Pasalnya, banyak artisnya yang tidak tahan banyak yang pingsan dan kerasukan," ujarnya.
BAB 5
5w 1h
APA : sejarah situ buled
SIAPA :
sesepuh purwakarta
KAPAN : Pembangunan Situ Buleud mulai dirintis pada 1830 oleh pendiri Purwakarta, yaitu R.A.
Suriawinata. Antara tahun 1819-1826, pemerintahan Belanda melepaskan diri dari
pemerintahan Inggris yang ditandai dengan upaya pengembalian kewenangan dari
para bupati kepada Gubernur Jendral Van der Capellen. Dengan demikian,
Kabupaten Karawang dihidupkan kembali sekitar tahun 1820, meliputi wilayah yang
terletak di sebelah timur Kali Citarum/ Cibeet dan sebelah barat Kali
Cipunagara.
DIMANA : di
kabupaten purwakarta
MENGAPA : Seorang sesepuh Purwakarta yang juga
Sekretaris Musyawarah Bersama Masyarakat Purwakarta dan anggota panitia
penelusuran sejarah Purwakarta, R.H. Garsoebagdja Bratadidjaja, menjelaskan,
pada zaman dahulu Situ Buleud merupakan tempat "pangguyangan"
(berkubang) badak yang datang dari daerah Simpeureun dan Cikumpay serta
dijadikan pula tempat minum bagi binatang lainnya. Situ Buleud terbentuk karena
ada mata air ditambah air hujan. Kemudian, pada zaman Belanda diperbesar.
Karena dikhawatirkan airnya terus surut, dibuatlah saluran irigasi dari daerah
Pasawahan.
BAGAIMANA :
Pada zaman Belanda itulah, rakyat
jelata tidak boleh menginjak rumput yang ada di sekeliling Situ Buleud karena
merupakan tempat atau arena bermain para gegeden Belanda. Untuk menjaganya, dipercayakan
kepada seorang upas bernama Sahro lengkap dengan pentungan karetnya. Ia
seringkali berteriak-teriak untuk menakut-nakuti anak-anak yang bermain ke
wilayah sekitar danau itu. Karena merasa takut dipentungi, anak-anak biasanya
terus berlarian.
Comments
Post a Comment